Wednesday, June 23, 2010

Khawatir? Sunting Saja!

Mestinya kita khawatir tersadar jika rasa malas untuk bersaat-teduh tiba-tiba menyergap, atau rasa kantuk lebih berkuasa saat itu. (Bagaimana bisa merealisasikan niat baca alkitab setahun?)

Mestinya kita khawatir tersadar jika amarah mulai menguasai hati kita karena hal-hal kecil. (Jangan sampai meredupkan semangat yang sudah berhasil terbangun.)

Mestinya kita khawatir tersadar jika rasa santai kembali menguasai padahal saat itu kita masih punya tugas atau hutang yang mesti segera dilunasi. (Jangan lalai! Jangan lalai! Jangan lalai!)

Mestinya kita khawatir tersadar jika kita mulai menyepelekan hal yang merupakan kepentingan saudara kita. Sesederhana apapun itu. (Yang kelihatannya sepele bisa juga berakibar fatal. Jangan lupa!)

Dan seterusnya....

Pernah mengalami salah memilih kata seperti saya? *LOL*

Ini adalah postingan yang lalu yang akhirnya saya harus unpublish, karena saya takut memberi persepsi yang salah. Mungkin saya berlebihan, tapi saya merasa tidak enak saja. Sebelumnya kata 'khawatir' di atas tidak dalam keadaan tercoret. Tapi sekarang saya mencoretnya dan gantinya adalah 'tersadar'. *LOL* Sebelumnya saya merasa, istilah 'khawatir' sangat tepat dalam mendeskripsikan keadaan yang sadar akan konsekwensi yang mungkin saja terjadi. Padahal setelah saya baca lagi, saya renungkan dan bandingkan artinya dalam KBBI, saya merasa 'tersadar' adalah pilihan kata yang lebih pas.

kha·wa·tir a takut (gelisah, cemas) thd suatu hal yg belum diketahui dng pasti;
meng·kha·wa·tir·kan v 1 khawatir thd suatu hal: ia ~ kesehatan anaknya; 2 menimbulkan rasa khawatir: keadaan jantungnya sangat ~;
ke·kha·wa·tir·an n perasaan khawatir; kecemasan: timbul ~ dl dirinya, kalau-kalau ia tidak lulus ujian
...Bukankah kita seharusnya menaklukan kekhawatiran kita sendiri dengan iman, dan tidak berlarut-larut dalam kekhawatiran?

Singkat saja, selain jangan khawatir, tetap percaya kepada-Nya, Tuhan juga meminta kita untuk tetap berjaga dan berdoa. Sense of awareness.  Cara bijak menyikapinya adalah dengan menyerahkan segalanya    termasuk kekhawatiran kita, dan tetap melakukan apa yang tetap menjadi bagian kita untuk diusahakan.

Ok. Dengan demikian kesalahan sudah saya koreksi.

[full edited! :p]

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...