Saturday, March 6, 2010

Surat dari Bapamu di surga

Reading Letter
AnakKu yang terkasihi...
Kadangkala hidup mengharuskanmu menangis tanpa sebab. Kau merasa sudah berbuat baik dan benar, tetapi masih banyak kritikan yang dialamatkan kepadamu. Kau mengira keputusan yang kau ambil sudah tepat ternyata pikiranmu keliru.
Jangan putus asa! Bangkitlah! Matahari tanpa sinar tidak layak disebut matahari. Demikian juga dengan dirimu. Kau adalah matahari yang seharusnya memancarkan sinar, sekalipun mendung kelabu menutupi pandangan orang untuk melihat keindahan cahayamu.

Anakku yang terkasih...
Aku sering melihatmu marah ketika kau melihat orang lain berhasil. Untuk apa kau menginginkan keberhasilan orang lain? Bukankah Aku telah menyediakan kesuksesanmu sendiri?
Kau tidak pernah mengejarnya. Jadi kau tidak pernah bisa memilikinya. Matamu tidak terfokus pada rancanganKu yang dahsyat atas hidupmu, melainkan tertuju pada karyaKu yang luar biasa terhadap diri orang lain.
Jadilah seperti air. Selalu mengalir... Melewati semua benda. Menembus semua sisi dan tanpa batas.

Anakku, jangan mau dikalahkan oleh keadaan, tetapi kalahkanlah keadaan!
Thinking
Anakku terkasih...
Jangan sakit hati ketika kau ditegur, padahal kau merasa sudah mengerjakan yang terbaik. Sakit hati itu hanya akan membuat tidurmu tidak nyenyak dan perasaanmu tidak nyaman. Buanglah itu dari hatimu dan pikiranmu!

Kuasailah dirimu sedemikian rupa hingga kamu bisa mengatasi perasaan diperlakukan tidak adil, dilecehkan, diremehkan ataupun dikhianati oleh sesamamu. Bukankah memang untuk itu kau hidup? Untuk melihat kenyataan bahwa di dunia ini yang paling mengerti perasaanmu dan menerima dirimu apa adanya hanya Aku?

Jauhilah segala bentuk kemarahan, tetapi jangan jauhi AKU! AnakKu, ingatlah hal ini baik-baik. Aku selalu membuka tanganKu lebar-lebar untuk memberimu rasa aman, kapanpun kau membutuhkannya. Aku senantiasa menyiapkan bahu untuk tempat kepalamu bersandar dan mencurahkan tangis. Aku melakukannya karena Aku sungguh-sungguh peduli padamu!!!

Ayah yang selalu mengasihimu,
YESUS.

***


"Mur, sms yang panjang itu bukan gw yang nulis. Itu surat Uskup Agung: Julius Darmaatmaja, SJ, atau langsung dari Paus di Vatikan," Kira-kira begitulah jawabannya waktu saya menanyakan sourcenya. Tulisan "Surat dari Bapamu di surga" saya dapat dari sms seorang teman baik: Anna, sekitar pertengahan februari 2009.And why did I need to know the source? Ya because it was so nice to read it! And I want to post it here, so I have to write the source too here. ;-)

Yup, ini saya kutip lagi dari blog yang lalu. (Ribet, ya, saya? :p hehe..)

*Image source: jupiterimages.com

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...